widgets

Selasa, 19 November 2013

Sjamsul Arifin Achmad, Menggagas Penemuan Senyawa Kimia


BERKAT kecintaannya untuk meneliti senyawa-senyawa pada tanaman, Prof Sjamsul Arifin Achmad menggagas penemuan puluhan senyawa kimia pada tanaman di Indonesia yang bermanfaat sebagai hormon tumbuhan, antibakteri, hingga antikanker pada manusia. Penamaan kimia senyawa-senyawa hasil temuan itu di antaranya memakai nama Indonesia.
GURU besar kimia organik bahan alam pada Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) ini menemukan senyawa-senyawa kimia pada tanaman dengan dibantu Dr Euis Holisotan Hakim, Dr Yana Maolana Syah, Dr Lia Dewi Juliawaty, Didin Mujahidin MSi, dan Drs Lukman Makmur dari Departemen Kimia FMIPA ITB.
Sejak tahun 1985, Sjamsul dan timnya melakukan penelitian terhadap tanaman hutan di Indonesia. Ketekunan itu membuahkan hasil. Dari hasil penelitian, mereka menemukan puluhan zat kimia yang berkhasiat.
Senyawa-senyawa itu kemudian dinamai dengan istilah Indonesia. Senyawa kimia yang bermanfaat sebagai hormon tumbuhan yang ditemukan pada tumbuhan medang (Lauraceae) di Gunung Pangrango, Jawa Barat, misalnya diberi nama Indonesiol.
Ada pula senyawa yang diberi nama Diptoindonesianin A, Diptoindonesianin B, Diptoindonesianin C, dan seterusnya hingga Diptoindonesianin Z. Senyawa ini memiliki sifat antibakteri dan terkandung dalam tanaman meranti (Vatica) yang banyak terdapat di Kalimantan. Demikian pula senyawa Artoindonesianin A, Artoindonesianin B, dan seterusnya, hingga Artoindonesianin Z yang terbukti mengandung sifat antikanker. Senyawa ini terkandung pada tanaman nangka- nangkaan (Artocarpus champeden) di Sumatera Barat.
Sedikitnya 300 jurnal internasional telah memuat hasil penemuan mereka. Sjamsul ratusan kali juga diundang untuk menyampaikan gagasan dan hasil penemuannya dalam forum-forum internasional.
"Indonesia merupakan negara peringkat kedua di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati terbanyak. Masih banyak potensi yang dapat digali dari tanaman-tanaman di Indonesia," kata Sjamsul mengomentari temuannya.
DUNIA kimia organik telah ditekuni Sjamsul selama 40 tahun. Pria kelahiran Padang, 11 April 1934, ini memiliki keyakinan bahwa tumbuh-tumbuhan di Indonesia sangat kaya akan senyawa kimia yang berkhasiat. Hal inilah yang mendorongnya untuk menggagas penemuan terhadap senyawa-senyawa kimia pada tumbuhan dengan melibatkan rekan-rekannya di ITB.
Senyawa-senyawa kimia pada tanaman, selain memiliki fungsi biologis terhadap tanaman itu sendiri, juga berguna untuk sistem biologis pada makhluk hidup lain. Bahkan, tanaman yang dianggap beracun sekalipun masih punya manfaat.
"Senyawa tanaman yang meracuni suatu jenis makhluk hidup bisa jadi merupakan obat bagi makhluk hidup lain. Tergantung bagaimana kita mau menggali dan memanfaatkan senyawa itu," papar pria yang meraih predikat lulusan terbaik program strata 1 (S1) dari University of New South Wales Australia pada tahun 1960.
"Indonesia memiliki sedikitnya 40.000 jenis tanaman. Bayangkan, jika setiap jenis tanaman menghasilkan ratusan bahan kimia, berapa banyak bahan kimia pada tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk makhluk hidup?" tambah pria yang langsung mengikuti beasiswa program doktor (S3) pada University of New South Wales Australia selepas lulus S1 itu.
Penebangan hutan secara membabi buta di Indonesia menjadi salah satu keprihatinan Sjamsul. Penebangan hutan, selain merusak ekosistem, akan menghancurkan potensi tanaman-tanaman yang bermanfaat bagi manusia.
"Kalau penjarahan hutan semakin marak, tidak lama lagi pabrik-pabrik kimia yang ada di alam kita akan musnah. Yang paling dirugikan adalah generasi mendatang karena mereka akan kehilangan sumber daya bahan kimia yang potensial untuk keperluan hidupnya," kata dosen yang selalu melibatkan mahasiswa dalam setiap penelitian yang dilakukannya itu.
Di samping giat meneliti, pria yang merintis pembuatan sistem akreditasi nasional laboratorium penguji ini aktif menjalin kerja sama dengan lembaga internasional. Ia pernah menjadi konsultan pada Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk pengajaran kimia di tingkat Asia pada tahun 1967-1973, dan anggota kelompok kerja UNESCO untuk pembentukan Federasi Masyarakat Kimia Asia tahun 1998.
Berkat penelitian dan pengabdiannya terhadap pengembangan kimia bahan alam, ia juga meraih sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri. Di antaranya, Satya Lencana Karya 30 tahun dari Presiden Republik Indonesia. Sjamsul juga pernah dinominasikan sebagai kandidat peraih hadiah Nobel bidang kimia pada tahun 1989 dan 1994.
DI masa pensiunnya sebagai pengajar, suami dari Kartini yang dinikahinya pada tahun 1958 ini masih menyimpan keprihatinan terhadap nasib guru-guru kimia di Indonesia. Kesempatan guru kimia untuk meningkatkan pengetahuannya hingga kini masih sangat terbatas. Akibatnya, materi pelajaran kimia tidak banyak berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.
Pria yang meraih gelar honorary doctor of science dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada bulan Oktober 2004 ini menilai bahwa guru memiliki peran sangat penting untuk membangkitkan kesenangan dan minat siswa dalam mempelajari ilmu kimia. Kesenangan siswa terhadap kimia hanya dapat dibangkitkan jika guru menguasai materi yang diajarkan.
"Guru yang mengajar secara sistematis akan merangsang siswa untuk menyukai pelajaran. Tetapi kalau guru saja sudah tidak memahami materi yang diajarkan, siswanya pasti semakin tidak mengerti," tuturnya.
Pengembangan minat generasi penerus terhadap ilmu kimia juga perlu dirintis oleh perguruan tinggi. Kemajuan ilmu kimia di perguruan tinggi akan mendorong siswa untuk menyenangi ilmu kimia, dan merangsang sekolah menengah untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
"Ini semua butuh proses. Tetapi kalau tidak dimulai, kapan tradisi pengembangan ilmu kimia di Indonesia akan tumbuh?" katanya.
Sumber : Kompas (28 Desember 2004)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar